Azyumardi Azra: Pembaharuan dalam Pendidikan Islam

200px-Azyumardiazra

Proses pembaruan merupakan proses yang saling memiliki keterkaitan dan berkesinambungan. Dengan kata lain, modernisasi merupakan keniscayaan yang mutlak dilakukan agar terealisasi kemajuan dan progresivitas kualitas umat. Tanpa adanya upaya pembaruan, umat akan hidup dalam belenggu kejumudan dan stagnansi. Sementara itu era global menuntut persaingan dan kompetisi yang ketat baik dari segi kualitas input maupun output. Kebertahanan umat pada tradisi lama yang semestinya diperbaharui hanya akan memperlambat umat mengejar ketertinggalan.

Kata pembaruan dalam Kamus Bahasa Indonesia, berarti proses, cara, perbuatan membarui. Adapun menurut Muljono Damopolii, pembaruan mengandung prinsip dinamika yang selalu ada dalam gerak langkah kehidupan manusia yang menuntut adanya perubahan secara terus-menerus. Sedangkan menurut Azyumardi Azra, upaya untuk menata kembali struktur-struktur sosial, politik, pendidikan dan keilmuan yang mapan dan ketinggalan zaman (out dated), termasuk struktur pendidikan Islam, adalah bentuk pembaruan dalam pemikiran dan kelembagaan Islam.

Azyumardi Azra berpendapat bahwa modernisasi atau pembaharuan Islam merupakan upaya untuk mengaktualisasikan ajaran Islam agar sesuai dengan perkembangan sosial yang terjadi. Konteks ini menegaskan bahwa ajaran Islam dapat disesuaikan dengan tuntutan sosial, sehingga dengan perubahan pemikiran-pemikiran atau kebiasaan lama yang mengandung nilai muamalah disesuaikan dengan perkembangan zaman dan tidak mengubah ajaran Islam yang diajarkan oleh Rasulullah. Di sisi lain ditegaskan lagi oleh pendapat Harun Nasution yang mengatakan pembaruan atau modernisasi mengandung pemikiran, aliran, gerakan, usaha untuk mengubah paham-paham, adat-istiadat, institusi-institusi lama, dan sebagainya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern.

Dengan perubahan yang disesuaikan dengan suasana sosial dan kemajuan ilmu pengetahuan tersebut, maka akan dapat menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dengan pasar global di zaman modern ini. Untuk itu, para pendidik dan tenaga kependidikan juga harus ditingkatkan baik kuantitas maupun kualitasnya dengan cara pengiriman ke universitas-universitas besar di Barat di mana mereka akan mendapat pelatihan dalam pengajaran dan metodologi penelitian, interpretasi dan analisis. Sehingga setelah mereka menggali ilmu di negara-negara yang pengetahuannya lebih maju, mereka dapat memberikan atau membagikan ilmu yang telah mereka dapat ke dunia pendidikan Indonesia.

Pendidikan Islam dalam pandangan Azyumardi Azra haruslah melakukan perubahan secara signifikan. Adapun untuk mencapai perubahan pendidikan Islam itu, dengan cara perubahan dalam pemikiran dan kelembagaan. Pemikirannya harus bebas, rasional, modern, demokratis dan toleran (sebagaimana puncak kejayaan/ keemasan Islam di zaman klasik). Pada masa kejayaan Islam di Dinasti Umayyah., masyarakat Islam pada saat itu sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan tingkat toleransi Ilmuan pada masa itu sangat tinggi, sehingga banyak pemikiran-pemikiran yang dapat diaplikasikan berdampak kepada ilmu pengetahuan pada saat itu yang berkiblat kepada tokoh pemikir-pemikir Islam.

Namun terjadi kesenjangan antara masa di mana Islam menjadi salah satu pusat keilmuan dengan Islam pada negara-negara yang berkembang. Biasanya bangsa-bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam di negeri-negeri yang sedang berkembang, menghadapi persoalan-persoalan yang disebabkan antara lain, ledakan penduduk dan meningkatnya tuntunan-tuntunan keperluan dari penduduk.

Negeri-negeri berkembang menyadari ketertinggalan mereka dari negeri-negeri yang telah maju, terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dewasa ini, dunia Islam merupakan kawasan yang paling terbelakang di antara penganut agama besar lain. Dengan kata lain, di antara semua penganut agama besar di muka bumi ini, para pemeluk Islamlah yang paling rendah dan lemah dalam hal sain dan teknologi. Hal ini disebabkan antara lain, karena pendidikan Islam di negeri muslim hingga akhir abad ke-20 masih menekankan aspek teologis, kurang memperhatikan aspek pengembangan ilmiyah. Sistem pendidikan Islam masih disibukkan dengan persoalan teologis, yang menganggap aspek sains dan teknologi menjadi tidak penting dan tidak sempat terpikirkan. Pendidikan Islam, hingga saat ini lebih cenderung pada aspek yang berkaitan dengan normatifitas, mengakibatkan tuntutan historisitas. Akibatnya, umat Islam berada di garis paling belakang dalam hal penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Berkaitan dengan pemaparan pernyataan kondisi pendidikan negara berkembang khususnya Islam, maka perlulah modernisasi atau pembaruan sistem pendidikan Islam di Indonesia untuk tercapainya keseimbangan antara teori dan praktis sehingga berdampak kepada lulusan-lulusan yang mampu bersaing di dunia maju saat ini. Hasil penalaran Azra, bahwa usaha pembaruan dan pengembangan sistem pendidikan Islam selama ini belum maksimal atau tidak komprehensif dan menyeluruh. Karenanya, sebagian besar sistem pendidikan Islam belum dikelola secara profesional. Kebanyakan lembaga pendidikan Islam masih dikelola dengan semangat “keikhlasan”, sehingga tidak terjadi esensial dalam pendidikan Islam. Tetapi menurutnya, tanpa harus mengorbankan semangat keikhlasan dan jiwa pengabdian, sudah waktunya sistem dan lembaga pendidikan Islam dikelola secara profesional, bukan hanya dalam soal penggajian, pemberian honor, tunjangan atau pengelolaan administrasi dan keuangan. Profesionalisme mutlak pula diwujudkan dalam perencanaan, penyiapan tenaga pengajar, kurikulum dan pelaksanaan pendidikan itu sendiri.

Jadi, pembaruan pendidikan Islam mesti dilakukan tidak hanya sekedar survive di tengah persaingan global yang semakin tajam dan ketat, tetapi juga berharap mampu tampil di depan. Oleh karena itu, pembaruan pendidikan Islam dimulai dari sistem dan kelembagaan pendidikan Islam. Tegasnya adalah pembaruan pendidikan Islam yang didasarkan pada prinsip modern.

Azyumardi Azra adalah seorang pemikir kontemporer yang menaruh perhatian besar terhadap upaya islamisasi ilmu pengetahuan dan pemikiranya mempunyai relevansi dengan perkembangan sains dan teknologi serta mengikuti perkembangan zaman, bahkan banyak sekali di dalam tulisanya ia berupaya untuk memikirkan kemajuan-kemajuan yang akan terjadi di masa depan sehingga dengan pemikiran inilah ia berhak dimasukkan ke dalam kelompok modernis.

Dan penulis juga mempunyai pendapat bahwa Azyumardi Azra adalah salah seorang tokoh yang menggabungkan pendidikan agama Islam ke dalam pemikiran pragmatisme di dalam aliran filsafat, yang mana untuk mengukur suatu kebenaran atau keberhasilan haruslah dilihat dari berapa letak perubahan dan memudahkan tercapainya suatu tujuan atau kepentingan tertentu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s